Menulis di era saat ini yang dikenal dengan era digital merupakan
sebuah tantangan. Sebab, dalam usaha menulis, ada hal yang sebenarnya tidak
dapat dilepaskan dari menulis, yaitu membaca. Membaca dan menulis ibarat adonan
kue dan cetakan kue. Membaca merupakan usaha untuk membuat adonan kue yang siap
untuk dicetak dengan berbagai macam cetakan yaitu dengan tulisan-tulisan yang
lebih variatif. Membaca tidak hanya tentang membaca buku atau literatur namun
membaca kondisi, membaca masyarakat, membaca pranata sosial dan apapun yang
dapat kita baca dengan indera dan akal kita. Maka dengan itu bahan untuk
menulis tidak akan pernah habis sebab objek yang akan ditulis sama luasnya
dengan jagat raya ini. Dari pentingnya dua komponen tersebut tercetus lah
sebuah gerakan, yaitu gerakan literasi.
Di era digital sekarang ini, menulis dapat dilakukan kapanpun dan
dimanapun. Artinya saat ini orang tidak perlu harus repot-repot kemanapun
membawa alat tulis dan buku karena saat ini handphone sudah ada di
tangan mereka, yang dapat menyimpan catatan kita sebanyak apapun. Media dalam
menyalurkan hasil tulisan pun bukan lagi hal yang sulit. Kita dapat menggunakan
berbagai macam jenis sosial media dan juga dapat juga membuat blog
pribadi yang tanpa harus membayar. Berbagai kemudahan ini seharusnya menjadi
kesempatan bagi kita untuk terus mengembangkan kualitas tulisan kita.
Menulis menjadi salah satu sarana dalam menyampaikan ide dan
gagasan. Bukan hanya tentang ide dan gagasan tetapi juga sarana menyampaikan
pemahaman kita tentang kondisi sesuatu yang mungkin di belahan sudut pandang
orang lain sangat berbeda. Penyampaian pemahaman akan suatu kejadian adalah hal
yang sangat penting. Karena, itu sangat berkaitan dengan pentingnya membaca,
memahami kemudian diakhiri dengan menulis. Berdasarkan hasil survey UNESCO pada
2012, Indonesia menempati posisi kedua terendah dari 61 negara soal minat baca.
Artinya dari 4.498 kampus yang ada di Indonesia, di mana para mahasiswanya
diharapkan menjadi pelopor kebangkitan dalam hal baca sangat tidak membantu.
Dan ternyata, Indonesia bukan hanya darurat membaca namun juga darurat memahami.
Cukup lah negara kita menjadi negara yang kurang minat baca jangan sampai
masyarakatnya pun menjadi orang-orang yang selalu dalam kondisi gagal paham.
Penyakit gagal paham atau pun salah paham akan berujung pada
maraknya hoax. Hal itu terjdi karena para penulis di era saat ini berkembang
tanpa dibarengi dengan menumbuhkan minat baca dan memahami. Dalam salah satu
ajaran filsafat Stoacisme yang dipopulerkan oleh Marcus Aurelius, sosok filsuf
yang berfokus pada karya penulisan, inti dari kegiatan menulis, agar terhindar
dari kesesatan berpikir atau jika ditarik pada zaman sekarang yaitu hoax,
adalah pemahaman dan upaya memaksimalkan nalar emosi dan upaya pengendalian dan
control diri. Aliran filsafat sangat mengedepankan akan kedisiplinan dan
tanggungjawab terhadap segala hal yang akan ia pikirkan, ia katakana dan ia
lakukan.
Apa yang menjadi cara berpikir dan cara awal menulis sosok Marcus
tersebut menjadi anti-thesa kondisi Indonesia saat ini banyak hoax terjadi
dalam berbagai lini media berita dan informasi hingga masuk dalam dunia tulis
jurnalistik. Pastinya, menajdi penulis yang bertanggungjawab dan sebelum itu
menjadi penulis yang banyak membaca dan memahami dengan cara memaksimalkan
nalar kritis dan emosi dalam diri. Maka menulis akan menjadi salah satu solusi
yang tersistematis untuk memperbaiki minat baca Indonesia dan menunjukkan tingkat
pemahaman yang diharapkan semakin membaik. Karena menulis merupakan refleksi
diri dan pemahaman akal akan suatu hal yang didapatkan. Dan menjadi sangat
penting di era saat ini yang disebutkan bahwasanya saat ini adalah era
post-truth, yaitu era yang penuh dengan kebohongan, era yang penuh dengan
konspirasi. Kejernihan berpikir dan penyampaian ide melalui menulis menjadi
garda terdepan dalam menangkis fenomena post-truth yang kian merebak.

Post a Comment