Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia penulis dalam bukunya, Bumi
Manusia, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak
menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah
bekerja untuk keabadian” tulisan yang di hasilkan selama masa-masa di penjara. Sesuai
dengan Tokoh Kh. Hasyim Asy’ari, tokoh ulama Indonesia dan pendiri Nahdlatul
Ulama (NU) yang merupakan organisasi Islam terbesar di Asia Tenggara, khusunya
Indonesia di kenal karena karya-karnya.
Tidak dapat dibayangkan, seandainya pendiri Pesantren Tebuireng
Jombang, Jawa Timur tidak menulis, tidak akan bisa membantu promlematika masyarakat
dahulu sampai sekarang dan pemikirannya dapat menjadi rujukan oleh umat Islam dalam
melakukan aktivitas kesehariannya, terutama ketika melakukan ibadah.
Salah satu tokoh pahlawan nasional yang mengabadikan diri sebagai
pendidik, pendakwah, dan termasuk sosok tokoh penulis yang sangat produktif.
Adapun karya-karya yang dihasilkan selama hidup dan terus menjadi acuan umat Islam
meliputi, Al-Tibyan Fi Al-Nahy’an Muqatha’ah Al-Arham Wa Al-Aqarib Wa
Al-Ikhwan, Mukaddimah Al-Qanun Al-Asasy Li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, Risalah
Fi Ta’kid Al-Akhdz Bi Madzhab Al-A’immah Al-Arba’ah, Mawaidz, Arba’in Hadistsan
Tata’allaq Bi Mabadi’ Jamiyah Nahdlatul Ulama dan masih banyak karya-karya
yang telah dihasilkan selama hidup.
Dalam tulisan yang dimuat di majalah Soera Moeslimin, pada tahun
1944 tentang, Pak Tani Itu Penolong Negeri, adalah bukti kalau Hasyim Asy’ari
juga seorang tokoh yang memiliki wawasan keilmuan yang tidak hanya berbasis
keislaman, tetapi perpaduan yang sangat apik ketika dibaca dan direnungkan.
Hasyim Asy’ari di tengah-tengah perjuangan melawan penjajah, tetap menjaga
tradisi tulis menulis. Waktu yang digunakan bukan hanya untuk berdakwah kepada
umat manusia, dan bukan hanya untuk memperjuangkan nasib bangsa Indonesia dari
pemberontak-pemberontak penjajah saja. Dari kesadaran yang tinggi, ia menulis.
Sesuai dengan apa yang Imam Syafi’i katakana, ilmu itu bagaikan hasil panin di
dalam karung, menulis adalah ikatnya.
Jika melihat sejarah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dalam berjuang
untuk berkarya masih tidak mau menulis?. Apakah ketika membaca karya-karyanya
yang bisa dijadikan pedoman sampai saat ini masih tidak tergugah untuk menulis?
Apakah menjadi umat Islam tidak malu jika tidak menulis atau bagaimana untuk menjadi
penerusnya jika tidak menulis?. Beberapa pertanyaan tersebut bisa menjadi
perwakilan dari sekian banyak pertanyaan yang memberitahukan bahwa, penulis itu
tetap penting sampai sekarang.
Jika menulis itu penting, bagaimana sekarang yang sudah berbeda zaman
dengan pendiri Nahdlatul Ulama yang hidup
selalu berkarya. Perbedaan zaman tidak membuat sekat atau penghalang dalam
berkarya. Alih-alih sekarang sudah masuk era revolusi industri 4.0 yang
seharus menjadi tolak ukur semakin meningkat dalam berkarya.
Revolusi industri 4.0 adalah era yang menekankan pada pola digital economy,
artificial intelligence, big data, robotic atau yang lebih dikenal dengan
sebutan, disruptive innovation. Oleh karena itu, zaman yang sudah serba
canggih, tidak ada batasan untuk selalu berkarya, dan tersedianya sarana
informasi secara terbuka dan secara cepat menjadi peluang besar untuk menjadi
penulis yang lebih memberi kontribusi yang besar untuk peradaban dunia.
Oleh karena itu, menulis di era 4.0 akan lebih efektif untuk memberikan
sokongan terhadap negara, supaya menjadi negara yang berperadaban dan akan
menjadi orang yang abadi dengan tulisannya. Seperti tokoh-tokoh penulis di
dunia Islam, Abu Hamed Muhammad Ibu Muhammad Al-Ghazali, Abu Abdullah Muhammad
Bin Idris Asy-Syafi’i Al-Muthtalibi Al-Qurasyi, Ahmad Bin Hambal dan lain
sebagainya.
