Menulis, Menggapai Peluang atau Kegagalan di Masa Depan


Era global saat ini membawa beberapa perubahan yang bisa dikatakan sangat signifikan. Tentunya perubahan tersebut membawa dampak yang tidak hanya positif namun juga negatif. Apalagi saat ini kita telah masuk pada masa 4.0 (four point zero) yang mana kecanggihan teknologi terutama dalam dunia online semakin berkembang pesat. Dampak positif yang ditimbulkan menjadikan kehidupan manusia serba lebih mudah dan cepat tak terkecuali pada pelajar atau mahasiswa. Dalam dunia akademis, tentunya tidak bisa terlepas dari teknologi, karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan. Pelajar lebih mudah untuk pintar dan menjadi cerdas, maksudnya mereka mudah sekali untuk mendapatkan ilmu atau wawasan baru dengan adanya buku-buku online (e-book), ditambah lagi dengan kecanggihan berbagai macam aplikasi yang menunjang untuk belajar seperti MS. Word.
Pelajar kegiatannya adalah belajar yang meliputi membaca, menulis, menganalisis dan lain sebagainya. Maka dari itu, mereka dijuluki para akademisi yang memiliki pengetahuan luas. Menulis salah satunya, tentunya dalam dunia pendidikan tidak asing dengan kata “menulis”, bahkan kegiatan menulis ini merupakan salah satu pokok dari pembelajaran. Kita dapat mengetahui ilmu juga dari tulisan-tulisan ilmuwan terdahulu dan kita akan mengingat ilmu yang kita dapat juga melalui kegiatan menulis. Jadi, dalam dunia akademis menulis adalah sesuatu yang dianggap wajib dan sudah menjadi kebutuhan.
Menulis dalam masa kini menjadi hal yang asing dikalangan akademisi, banyak dari mereka anti dengan menulis.Tentunya hal ini menjadi ancama besar di era yang semakin modern ini. Banyak hal yang menyebabkan hal tersebut menjamur dikalangan pelajar diantaranya, minat pelajar yang semakin rendah untuk membaca dan lebih memilih main game dengan handphone yang seharusnya mendukung kegiatan belajar mereka. Banyak dari mereka yang tidak mau lagi memegang buku, yang mereka minati adalah bersosial media dan nge-game. Sehingga pada akhirnya, kwalitas belajar mereka  otomatis menurun. Hal ini sangat disayangkan pastinya. Beribu-ribu pelajar yang ada di Indonesia yang seharusnya membaca dan menulis setiap harinya, kini mereka asyik sendiri dengan dunia mayanya. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian dari pihak terkait terutaman keluarga yang setiap hari mengaawasi kegiatan anak lebih dekat. Orang tua harus sadar akan hal tersebut. Lembaga pendidikan pastinya juga harus turun tangan dalam permasalahan ini, karena jika dibiarkan maka akan berakibat fatal bagi generasi bangsa Indonesia kedepannya. Dan memang terbukti, selain menurunkan minat membaca dan menulis pelajaran, adanya teknologi baru pada era ini menjadi sebab turunnya moral pelajar belakangan ini. Menurut Abdul Khak (Kepala Balai Bahasa Bandung), tradisi menulis di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca. Hal tersebut bukan suatu hal yang aneh, karena kedua hal tersebut memang tidak dapat dipisahkan, jika tradisi membaca saja menurun apalagi tradisi menulisnya. Ia juga meragukan tulisan-tulisan yang berada di dunia akademik karena kualitas membaca dan menulis mereka yang rendah. Ia juga menuturkan bahwa membaca konteksnya tidak hanya membaca buku tetapi membaca kondisi disekitarnya.
Marilah kita kobarkan semangat menulis dan membaca. Ketahui dulu manfaat dari keduanya maka kita akan tertari masuk kedalamnya. Menulis itu asyik dapat menuangkan segala pikiran yang ada di otak kita. Sebagaimana pepatah, “Gajah mati meninggalkan gadingnya, manusia mati meninggalkan tulisan atau karyanya”. (Bandung, Kompas.com, 2011)

1 تعليقات

إرسال تعليق

أحدث أقدم