Refleksi Sejarah terhadap Literasi di Era 4.0


Pada era revolusi 4.0 terbukti dengan keberadaan digital yang serba canggih. Hal ini dirasakan oleh berbagai kalangan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan dan pedesaan. Kemajuan digital ini ditandai dengan fasilitas yang ada di lingkungan sekitar masyarakat mulai dari peralatan rumah tangga hingga alat elektronik berbasis baik audio maupun visual. Seperti televisi, mesin cetak, laptop, handphone, kipas angin, radio dan lain sebagainya. Namun, era ini memiliki dampak baik dan buruknya. Dampak baiknya yaitu dapat membantu pekerjaan masyarakat. Selain itu dampak buruknya adalah perubahan pola pikir dan gaya hidup masyarakat cenderung bersikap apatis. Apatis yang dimaksudkan dalam hal kebudayaan literasi.
Fenomena seperti itu juga mempengaruhi minat menulis sebagai bagian bidang literasi terutama kalangan mahasiswa sebagai generasi millenials. Tidak sah rasanya jika literasi dipisahkan dengan bidang tersebut. Ini terjadi adanya penyempitan makna literasi itu sendiri, sehingga hanya sebatas kegiatan membaca. Padahal, literasi juga berkaitan dengan serangkaian kegiatan membaca dan menulis. Sesuai dengan perngertian yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesisa.
Menulis dalam pandangan Darmiyati Zuhdi (1999: 159) adalah suatu keterampilan dalam menuangkan gagasan, pendapat, tanggapan, atau bahkan pengungkapan perasaan yang dituangkan dengan menggunakan bahasa tulis. Adapun menurut Haryadi dan Zamzani, (1996: 77), menulis yaitu keterampilan menuangkan buah pikiran yang dirangkai dengan kalimat secara utuh sehingga dapat dikomunikasikan dengan mudah oleh si pembaca. Berdasarkan kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwasannya menulis merupakan sebuah pekerjaan seseorang  dalam menuangkan pendapat, pandangan, ide atau gagasan yang dituangkan dalam sebuah teks dan hasilnya berupa karya tulis baik di nilai secara ilmiah maupun non ilmiah. Kebanyakan orang memiliki hobi membaca namun belum termotivasi untuk menulis. Tetapi memang sebelum menulis harus melewati fase-fase membaca sekaligus memperluas khazanah keilmuan. Sehingga tulisan yang dihasilkan kaya dengan kosa kata bahasa Indonesia.
Kerapkali wacana menulis menjadi permasalahan, karena merasa ketidakpunyaan bakat dalam kepenulisan. Sekali-lagi menulis bukanlah persoalan bakat atau tidaknya, melainkan persoalan kemauan memulai dan mengembangkannya menjadi suatu bakat. Memang menulis tidaklah mudah, karena dibutuhkan keterampilannya dalam pengolahan kata sehingga dapat dipahami secara gamblang.  
Justru kemajuan teknologi harusnya menjadi pertanyaan besar. Apakah kehidupan yang lebih terfasilitasi menjadi semangat membangun literasi atau bahkan sebaliknya. Sesekali generasi millenials menengok dan merenungi kembali betapa besarnya peradaban tulisan bangsa Indonesia. Agar sebagai motivasi dalam mengembangkan warisan budaya menulis bangsa Indonesia. Mengingat perkataan Ulil Abshar Abdalla (2019) bahwa “Tulisan adalah Peradaban”. Dikatakan peradaban sebab tulisan terus menerus berkembang seiring perubahan zaman. Dari era klasik hingga era 4.0, model-model tulisan terus tercetak ditangan para pemenangnya. Sejarah bangsa telah membuktikan banyaknya sastrawan yang turut memajukan peradaban tulisan. Baik dari bagian peradaban Islam maupun peradaban bangsa Indonesia. Ya, kegiatan menulis sudah menjadi akar budaya bangsa ini. Budaya menulis tak hilang dari jejak sejarah Indonesia maupun jejak Islam Indonesia. Hasil sastranya begitu hebat. Salah satu contoh bukti pada masa hindu-buddha seperti Kitab Negarakertagama, sastra islami dalam bentuk serat  dan hikayat. Tak kalah juga pada era kontemporer yang memunculkan banyak sastrawan fenomenal dan tentunya karya-karyanya yang menjadi idola para pembacanya, siapa yang tak mengenal sosok sastrawan yang akrab di sapa Pram dengan karyanya yang berbau sejarah yaitu Kronik Revolusi Indonesia dan Buya Hamka dengan karya besarnya yaitu Tafsir al-Ahzar. Fenomena seperti ini setidaknya dijadikan sebuah cerminan bagi generasi millenials untuk membangun dan mempertahankan peradaban menulis. Mengingat kata mutiara “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” (Pramoedya Ananta Toer).***

أحدث أقدم